Pandangan Tentang Pluralisme Dalam Agama Islam Artikel

Pandangan Tentang Pluralisme Dalam Agama Islam - Artikel


Islam memandang pluralisme sebagai sikap saling menghargai dan toleransi terhadap agama lain, namun bukan berarti semua agama adalah sama artinya tidak menganggap bahwa dalam Tuhan yang kami sembah adalah Tuhan yang kalian baca; agama lain, sembah. Namun demikian Islam tetap mengakui adanya pluralisme agama yaitu dengan mengakui perbedaan dan identitas agama masing-masing (lakum dinukum waliyadin), disini pluralisme diorientasikan untuk menghilangkan konflik, perbedaan dan identitas agama-agama yang ada. 

.Dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menunjukkan pada nilai-nilai pluralisme, sebagaimana al-Qur’an sampaikan;
Artinya: Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim diantara mereka, dan katakanlah kami telah beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.” Qs. Al-Ankabut (29);46.
Selanjutnya, dalam bukunya Anggukan retmis kaki pak kyai Emha Ainun Najib sampaikan bahwa ditengah pluralitas sosial dan agama di era modern saat ini merupakan lahan kita untuk menguji dan memperkembangkan kekuatan keislaman kita. 

Karena pemenang didapat dari seleksi ketat antar kompotitor siapa yang konsisten dengan keimanan dan berpegang tuguh pada ketaqwaannya, maka dialah pemenangnya.
Artinya: “…. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (Al.Maidah (5);48)

Keberagaman merupakan sunnatullah yang harus direnungi dan diyakini setiap umat, kesadaran umat beragama menjadi kunci bagi keberlangsungan dalam menjalankan agamanya masing-masing. Setiap agama memiliki substansi kebenaran, dalam filsafat prenial suatu konsep dalam wacana filsafat yang banyak membicarakan hakekat Tuhan sebagai wujud absolut merupakan sumber dari segala sumber wujud. Sehingga semua agama samawi berasal dari wujud yang satu, atau adanya the common vision menghubungkan kembali the man of good dalam realitas eksoterik agama-agama. Disamping itu pluralisme harus dipahami sebagai pertalian sejati kebinnekaan dalam ikatan-ikatan keadaban, bahkan pluralisme adalah suatu keharusan bagi keselamatan manusia, melalui mekanisme dan pengimbangan masing masing pemeluk agama dan menceritakan secara obyektif dan transparan tentang histores agama yang dianutnya. (QS. Al-Baqarah 2:251), kehidupan beragama di masyarakat sering memunculkan berbagai persoalan yang bersumber dari ketidak seimbangan pengetahuan agama, termasuk budaya sehingga agama sering dijadikan kambing hitam sebagai pemicu kebencian. Padahal fitroh agama masing-masing mengajarkan kebaikan dan kemanusiaan, seperti dalam, (QS. AlMaidah,5:48). Sayyed Husein Nasr “dalam sebuah pengantarnya “Islam Filsafat Perenial” dijelaskan” sebuah agama tidak bisa dibatasi olehnya, melainkan oleh apa yang tidak dicakup olehnya, setiap agama pada hakekatnya suatu totalitas.  Cukup menarik untuk dikaji apa yang disampaikan Sayyed Husein Nasr tentang pluralisme Agama secara lebih mendalam mengingat beliau merupakan salah satu tokoh yang secara inten dan serius bergelut tentang masalah pluralisme dalam ranah filosofis.

Jhon Hick dam Lorens Bagus katakan ” dalam pandangan femenologis, termenologi pluralisme agama adalah sebuah realitas, bahwa sejarah agama-agama menunjukkan berbagai tradisi serta kemajemukan yang timbul dari cabang masing-masing agama. Bagi Sayyed Husen Nasr agama-agama besar dunia adalah pembentuk aneka ragam persepsi yang berbeda mengenai satu puncak hakikat yang misterius. Lebih jauh Masdar F. Mas’udi “sebagai jati diri manusia agama dapat ditinjau dari tiga aspek, Pertama, agama sebagai kesadaran azali yang bersumber pada bisikan ilahiyah dalam nurani setiap manusia, Kedua, agama sebagai konsep ajaran atau doktrin yang bersumber pada wahyu kenabian. Dan ketiga, agama sebagai wujud aktualisasi dan pelembagaan dari yang kedua.
0

BLOG LAINNYA